Category Archives: Artikel

Panca : REFLEKSI lebih baik daripada EVALUASI

Panca Budi Purnomo  pada sesi pelatihan Guru Gerakan Desa Cerdas Halmahera Selatan

Foto Panca Budi Purnomo pada sesi pelatihan Guru Gerakan Desa Cerdas Halmahera Selatan

Semarang – Mantan Presiden BEM FPIK Undip Tahun 2010, Panca Dias Purnomo mengungkapkan bahwa penggunaan kata evaluasi dinilai dapat meretakkan jalinan ukhuwuah antara orang yang satu dengan lainnya. Pemuda yang kini menimba ilmu di Amerika Serikat dan menjadi relawan Indonesia Mengajar menjelaskan bahwa refleksi lebih baik digunakan dalam setiap pelaksanaan  kegiatan.

Read the rest of this entry

Amalan Hari Raya Idul Adha

     Idul Adha adalah salah satu hari raya umat islam di seluruh penjuru dunia. Lebaran idul adha jatuh tepat pada tanggal 10 dzulhijjah. Dalam bulan dzulhijjah disarankan umat muslim untuk memperbanyak dzikir, tahmid tahlil dan memperbanyak amalan ibadah lainnnya. Jangan sia-siakan bulan yang indah ini tanpa memanfaatkan kesempatan untuk berburu pahala . berikut adalah beberapa amalan yang dianjurkan untuk dilakukan saat menjelang hari raya Idul Adha:

india-eid-al-adha-2010-11-17-6-50-0

 

 

1. Puasa tanggal 8 dan 9 dzulhijjah atau yang sering sebut hari tarwiyah dan arafah

2.Melafalkan Takbir ,tahlil dan tahmid :

الله أكبر الله أكبرالله أكب لا إله إلا الله و الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

Baik secara Pribadi Atau Berjamaah mulai waktu shubuhnya hari arafah sampai akhirnya hari tasyriq,Bertakbir ini tidak saja dilakukan oleh para muazin di Masjid-masjid, namun disunahkan pula oleh pribadi masing-masing.mengumandangkan takbir sejak keluar dari rumah menuju tempat shalat dan berhenti sampai shalat didirikan. Diceritakan bahwa Ibnu Umar menjalankan shalat ied di luar mesjid dan beliau bertakbir sehingga sampai di tempat mendirikan shalat dan beliau tetap bertakbir sehingga imam datang. (HR. Daruqutni). Ibnu Mas’ud mengatakan bahwa Nabi saw mengucapkan:

الله أكبرالله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله و الله أكبر الله أكبر ولله الحمد
Beliau mengucapkan takbir ini di mesjid, di rumah dan di jalan jalan.(HR. Mushanaf Abi Syaibah)

3. Mandi Sebelum Shalat Ied Adha dan Berhias

Mandi dalam fikih berarti membasahi semua tubuh dari ujung rambut hingga kaki, layakya mandi jinabat kemudian memakai wewangian. Diceritakan dari Ibnu Umar bahwa beliau mandi sebelum pergi menghadiri shalat ied (Muwatha Malik). Dari Ali pernah ditanya perihal mandi, maka dia menjawab, “Yaitu pada hari Jum’at,  hari ‘Arafah, hari raya Fitri dan hari raya Idul Adha.” (HR. Baihaqi).Dianjurkan pula untuk menyempurnakan kebersihan ini dengan merapikan bulu di ketiaknya, memotong kuku dan yang lainnya, sebab dia berfungsi sebagai penyempurna kebersihan dan keindahan.

4. Memakai Pakaian Yang Terbaik

Selanjutnya memakai pakaian yang bagus dan ini sangat dianjurkan mengingat para sahabat melakukannya. Diceritakan dari Ibnu Umar ra bahwa dia memakai pakaiannya yang paling indah pada dua hari raya (Al-Baihaqi). Ibnul Qoyyim berkata: “Dan Nabi saw memakai pakaian yang paling indah pada dua hari raya, maka beliau memiliki pakaian khusus yang dipakainya pada dua hari raya dan hari jum’at.” (Zadul Ma’ad).

5. Tidak Makan Sebelum Shalat Iedul Adha.

Dianjurkan makan setelah shalat Iedul Adha dengan dasar sabda Nabi Saw, “Bahwa Nabi Saw tidak berangkat shalat di hari raya Ied Fitri kecuali makan dahulu, dan beliau tidak makan pada hari hari raya Ied Adha melainkan setelah selesai shalat Ied.” (HR. Tirmizi, Ibn Majah dan Ahmad.

6. Berbeda Jalan Pergi Pulang.

Disunahkan pergi dan pulang dengan menggunakan jalan berbeda.
Dari Jabir ra berkata: “Bahwa Rasulullah Saw pada hari eid (pergi dan pulang) pada jalan yang berbeda.” (HR. Bukhari). Lakukan perbuatan ini semampunya meskipun hanya berbeda jalan kiri kanan agar mendapat pahala sunnah.

7. Shalat 2 Rakaat Ketika Sampai di Rumah.

Dari Abi Sa’id Al-Khudri ra berkata: “Bahwa Nabi Saw tidak mendirikan shalat apapun sebelum ied dan apabila telah kembali ke rumah maka beliau saw mendirikan shalat dua rakaat.” (HR. Ibnu Majah).Shalat di rumah ini dimungkinkan shalat dhuha sedangkan makna hadist di atas bahwa Nabi tidak shalat sebelum Ied, karena shalat ied ketika itu diselenggarakan di lapangan sehingga tidak ada shalat tahiyatul masjid. Sedangkan jika diadakan di Masjid, maka disunahkan shalat tahiyatul Masjid.

8.Hadir Shalat Ied Adha.

Tuntunan shalat ied ini sangat dianjurkan bagi pria dan wanita, bahkan sebagian ulama mengatakan wajib dengan dalil Hadits Ummu Athiyah bahwa,. ” Nabi saw memerintahkan para wanita yang masih gadis untuk mengerjakannya, begitu juga para wanita yang baru baligh dan mereka yang sedang haid, namun beliau memerintahkan agar wanita yang haid menjauhi tempat pelaksanaan shalat dan mereka menyaksikan kebaikan dan berdo’a bersama bagi kaum muslimin.” (HR. Bukhari)

9. menyembelih hewan kurban dst.

Image

Demikian amalan Sunah saat Idul Adha yang penulis baca dan ketahui dari berbagai sumber baik kitab fiqihk kitab hadits maupun dari artikel teman-teman blogger semoga Alloh memberikan taufiq dan hidayah kepada kita semua sehingga kita dapat mengamalkannya  .

 

Jadilah Muslim Cerdas dan Selektiflah Mengkonsumsi Berita!

Image

BELAKANGAN isu terorisme kembali mencuat. Bahkan terakhir, kegiatan pelajar Muslim di sekolah menengah seperti ROHIS) dituduh sebagai sarang “teroris”. Tidak berhenti di situ, pada saat bersamaan, keluar sebuah film provokatif yang merendahkan martabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi Wassalam.

Tetapi, yang disorot media bukan filmnya, lebih banyak cenderung kepada reaksi umat Islam yang melakukan demo, yang mereka sebut sebagai aksi anarkis. Jadi, umat Islam yang diserang, ketika bereaksi, umat Islam pula yang dituduh dengan tidak semestinya.

Sebagai seorang Muslim -terutama masyarakat umum- situasi seperti ini tentu akan menimbulkan kebingungan. Apalagi yang setiap hari sibuk bekerja dan tidak pernah intens menambah khazanah keilmuan Islam-nya. Sementara itu, mereka tanpa bisa menghindar dijejali oleh berbagai informasi (berita) yang belum tentu benar pemberitaannya.

Dalam situasi seperti ini, tentu kita semua sebagai Muslim harus cerdas memilah, memilih dan mengolah berita. Jangan sampai kita percaya begitu saja kepada semua berita yang ditayangkan oleh media. Setidaknya kita harus mengerti media mana yang konsen memberitakan Islam secara obyektif dan berimbang. Sekaligus juga harus mengetahui media mana yang kurang berimbang dalam menyampaikan berita tentang Islam dan umat Islam.

Dua hal itu sangat penting, utamanya untuk melindungi iman kita sendiri agar tidak terkikis oleh berita-berita yang tidak benar atau berbau fitnah. Sebab, media hari ini sama halnya dengan sahabat pada zaman dulu. Apalagi bagi mereka yang sibuk bekerja, tidak sempat silaturrahim, tidak bisa mengikuti pengajian di masjid, tentu tidak ada yang menemaninya, selain berita dari berbagai media.

Oleh karena itu, setiap Muslim wajib cerdas memilih berita atau informasi. Carilah media yang benar-benar bisa menguatkan iman dan meneguhkan keyakinan. Jika dianggap susah, maka kita harus memiliki sensor yang baik.

Allah SWT berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِن جَاءكُمْ فَاسِقٌ بِنَبَأٍ فَتَبَيَّنُوا أَن تُصِيبُوا قَوْماً بِجَهَالَةٍ فَتُصْبِحُوا عَلَى مَا فَعَلْتُمْ نَادِمِي

“Hai orang-orang yang beriman, jika datang kepadamu orang fasik membawa suatu berita, maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah kepada suatu kaum tanpa mengetahui keadaannya yang menyebabkan kamu menyesal atas perbuatanmu itu.” (QS.Al-Hujurat  49: 6).

Setiap media tentu menyajikan berita, tetapi belum tentu semua berita itu benar, ditulis dengan keikhlasan, kejujuran dan pemahaman yang baik. Maka dari itu, dalam situasi seperti sekarang, dimana informasi berseliweran begitu banyak maka tidak ada cara terbaik selain mengamalkan apa yang Allah firmankan di atas.

Periksa dengan teliti setiap berita. Apakah benar, salah, atau malah justru mengandung fitnah. Jika kita tidak mendalami ajaran Islam, tentu akan sulit bagi kita untuk melakukan pemeriksaan, apalagi sampai pada tahap memilah, memilih dan mengolah.

Maka jangan lupa pesan Nabi Muhammad saw, bahwa menuntut ilmu itu wajib. Jadi, sudah seharusnya setiap Muslim menambah keilmuan agamanya dengan penuh kesungguhan.

Apalagi di zaman dimana Islam selalu diberitakan secara negatif dan tidak berimbang. Kita perlu bertanya kepada ulama perihal Islam yang sesungguhnya. Setidaknya, kita membaca media-media Islam yang konsen membela hak dan suara umat Islam.

Media adalah Teman

Dahulu teman adalah manusia, sekarang tidak. Teman bisa berarti media. Bagaimana tidak, setiap orang dapat mengakses berita sesuka hati, sesuai selera, dan kebutuhan.

Berbicara teman dalam Islam adalah hal yang sangat pokok. Masalah teman adalah masalah iman. Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa seorang mukmin adalah cermin bagi mukmin lainnya. Pepatah Barat mengatakan, “You Are What You Talk.” Artinya orang akan berbicara dari apa yang dibaca dan didengar. Kalau bacaannya tentang Islam keliru, bisa keliru pemahamannya dan terganggu keimanannya.

Sekalipun terkesan sederhana, ini adalah masalah pokok. Ketidakpedulian kita sebagai Muslim terhadap masalah seperti ini adalah pertanda buruk bagi eksistensi umat Islam di masa-masa yang akan datang.

Bayangkan, di negeri yang mayoritas ini, umat Islam belum punya televisi Muslim yang bisa bersaing dengan televisi nasional yang kurang peduli terhadap umat Islam. Akibatnya, mau tidak mau, sebagian besar masyarakat Muslim Indonesia mengkonsumsi berita dari televisi yang tidak mendakwahkan Islam secara benar.

Mungkin, momentum terorisme dan anarkisme yang dituduhkan terhadap umat Islam, bisa menjadi momentum yang baik bagi kita semua (umat Islam) untuk menggalang kekuatan menghadirkan televisi Muslim Indonesia. Kita tidak bisa menyalahkan media yang sudah ada, karena secara frame work semua media itu hadir tidak dengan basis dakwah dan pencerahan umat tetapi komersialisme.

Tetapi jangan lupa, selagi media Muslim berupa televisi belum ada, kita semua sebagai Muslim harus serempak untuk mampu mengkonsumsi informasi yang berkualitas, benar, dan jujur. Jika tidak, maka perselisihan, percekcokan antar umat Islam sendiri, selamanya tidak akan bisa dihindari. Inilah salah satu PR terbesar umat Islam era kini.

Al-Qur’an Sebenar-benar Berita

Informasi akan semakin sulit disaring manakala kita sebagai Muslim buruk interaksinya dengan Al-Qur’an. Bayangkan, tidak sedikit di antara umat Islam yang setiap hari sanggup membaca koran tetapi tidak mampu membaca Al-Qur’an walau hanya beberapa ayat saja dengan penuh kesungguhan.

 Akibatnya, isi kepala lebih banyak berisi berita koran dari pada berita Al-Qur’an. Padahal, hanya Al-Qur’an saja yang menyajikan berita yang mutlak kebenarannya. Atas kondisi ini, amar makruf nahi munkar dianggap anarkisme. Kemudian, asal berjenggot, berjilbab, apalagi bercadar, berbekam, dan berpenghasilan obat-obatan herbal dituduh teroris lalu sebagian dari umat Islam pecaya begitu saja.

Hal tersebut tentu tidak benar. Tetapi selamanya sebagian umat Islam akan bingung dan bimbang manakala tidak memperbaiki interaksinya secara kuantitatif dan kualitatif terhadap Al-Qur’an. Sebab hanya Al-Qur’an yang isi dan kandungannya mutlak benar (QS. 2 : 2). Jadi, wajib bagi setiap Muslim percaya kepada Qur’an, dan selektif terhadap berita koran (media massa).

Menjadi Sahabat Setia Nabi

Reaksi yang dilakukan sebagian umat Islam di seluruh dunia dan di Indonesia terhadap film yang menghina Rasulullah adalah sebuah keniscayaan. Hal itu tidak bisa disalahkan, sebab dalam Islam ada kewajiban untuk membela Rasulullah saw. Tentu, tindakan destruktif dalam melakukan aksi unjuk rasa itu tidak dibenarkan dalam Islam.

Hal tersebut tidak bisa dihubungkan dengan ajaran Islam. Fenomena itu adalah bentuk reaksi psikologi yang pasti terjadi pada diri umat Islam. Karena apapun alasannya, tindakan menghina Nabi adalah tindakan yang tidak bisa ditolerir dan merupakan tindakan yang biadab.

Justru aneh jika ada yang menghina Nabi kemudian umat Islam tidak melakukan reaksi apa-apa. Nabi adalah bagian inti dalam ajaran Islam. Menghina Nabi berarti menghina Islam.

Terkait dengan hal itu, ada sebuah hadits yang relevan untuk dihadirkan dalam kesempatan ini. “Setiap Nabi yang diutus oleh Allah kepada suatu umat sebelumku, tentu ia mempunyai para sahabat setia dari umatnya. Mereka mengamil sunnahnya dan mengikuti perintahnya. Kemudian datanglah generasi berikutnya yang mengingkari sunnahnya, mereka mengatakan apa yang tidak mereka perbuat dan melakukan apa yang tidak diperintahkan.

“Barangsiapa yang bersungguh-sungguh (berjuang mengingatkan dan meluruskan mereka) dengan tangannya (kekuasaanya), maka dia adalah mukmin, barangsiapa yang bersungguh-sungguh meluruskan mereka dengan lisannya, maka dia adalah mukmin, dan barangsiaa yang bersungguh-sungguh berjuang meluruskan mereka dengan hatinya, maka dia adalah mukmin. Dan tidadalah dibelakang hal tersebut terdapat keimanan sekecil biji sawi pun.” (HR. Muslim).

Mari kita jaga hati kita dengan berita-berita dari media-media subhat yang hanya akan merusak pikiran, akhlaq anak-cucu kita semua.

Untuk saat ini, kita (umat Islam) memang tidak memiliki televisi yang menjadi representasi umat. Namun dalam banyak kasus, kita bisa  menjadi “pengendali” media massa di negeri ini. Jadi, mulai saat ini, marilah kita mulai selektif dalam mengkonsumsi berita. Termasuk memilih berita untuk kebutuhan kaum Muslim dan keluarga kita.*/Imam Nawawi

Duh, Halal atau Haram?

Bagaimanakah makanan yang selama ini kita makan?

Ketika keraguan datang mengenai halal dan haram dalam hidup kita

Diriwayatkan dari Abu Abdillah Nu’man bin Basyir ra. “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara syubhat (samar-samar) yang tidak di ketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang menjauhi syubhat berarti dia dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan, siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana pengembala yang mengembalakan hewan gembalaannya di sekitar (ladang) yang terlarang dimasuki, maka lambat laun dia akan memasukinnya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam tubuh ada segumpal daging, jika dia baik maka baiklah selirih tubuh dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa dia adalah hati.”

HR. Al-Bukhari dan Muslim

Bismillahirahmannirahim…

  Secara umum al-Qur’an maupun hadist memberi kriteria, makanan halal itu adalah halalan thayyiban. Dimana halalan thayyiban, menurut Sayyid Sabiq, terangkum dalam tiga hal:

  1. sesuai selera alamiah manusia.
  2. bermanfaat dan tidak membahayakan tubuh manusia.
  3. diperoleh dengan cara yang benar dan dipergunakan untuk hal yang benar.

Halal itu jelas, tidak tercela untuk dilakukan siapapun. Contoh : menikmati hal-hal yang dihalalkan Allah, seperti biji-bijian, buah-buahan dan yang berasal dari laut. ini jelas hukumnya tidak perlu dibantah.

Sementara, haram siapapun tau seperti uang hasil mencuri, minum khamr, memakan bangkai (kecuali yang berasal dari laut)  serta segala sesuatu yang mendatangkan mudharat (kerugian) bagi diri manusia.

Nah, ada satu hal yaitu syubhat (samar-samar) yang secara makna dapat diartikan sebagai berikut :

  1. Melakukan perkara-perkara syubhat haram hukumnya
  2. Syubhat akan memicu pada hal-hal yang diharamkan

Kedua pengertian ini di ketahui dengan jelas dengan mencermati perumpamaan yang dibuat oleh Rasulullah SAW mengenail hal penggembala kambing yang menggembala di sekitar pagar. Misalkan merokok, hal tersebut masih sama halal dan haramnya, namun setelah diadakan penelitian lebih lanjut ternyata rokok memiliki mudharat bagi pengguna dan sekitar . Yah, masih samar antara makruh dengan haram, maka sebaiknya ditanggalkan, karena terdapat keutamaan dari meninggalkan hal yang samar.

Syubhat sendiri dapat terjadi akibat minimnya ilmu, minimnya pemahaman, lalai dalam mencermati dan hal yang terbesar adalah niat yang tidak baik akibat keterberpihakan pada suatu kepentingan. Contoh dari niat seperti ini adalah tidak lain ingin membela pendapatnya sendiri, entah benar entah salah. Namun hal tersebut menghalangi seseorang untuk meraih ilmu  karena  yang bersangkutan hanya belajar untuk hawa nafsu belaka.

Mengenai Syubhat sendiri, bila dilihat kembali kedalam hadits diatas sebenarnya syubhat tidak selamanya berlaku untuk semua orang, hal ini di perkuat dengan sabda Rasullah saw, “yang tidak diketahui banyak orang.” yang berarti sesungguhnya banyak juga orang yang telah mengetahui syubhat tersebut.

Hikmah dari syubhat adalah, perkara-perkara syubhat adalah agar jelas siapa saja yang benar-benar serius menuntut ilmu dan tidak.  Permasalahan halal yaitu sesutau yang sudah jelas dan haram adalah sesuatu yang telah digariskan dalam syariah. Syubhat adalah samar-samar berlaku dalam ibadah, muamalat dan lainnya. Syubhat, hendaklah dihindari. Hati berperanan dalam mengendalikan diri sebagai pusat emosi dan akal.

Sumber : Hadits Arba’in ke- 6 oleh Imam An-Nawawi dan berbagai sumber

AMUNISI KESUKSESAN DENGAN BERINDIBATH

148328_453647217581_141193332581_5581845_4318023_n

Keyword: waktu,sukses, komitmen

Kita selalu menginginkan planning yang kita buat berjalan sesuai rencana. Hari ke hari, jam ke jam bahkan menit ke menit sudah diatur sedemikian rupa berharap mereka semua dapat ditepati tepat pada waktunya. Semua itu tidak akan bisa dicapai tanpa adanya  sebuah komitmen keras yang biasa disebut DISIPLIN.

Read the rest of this entry

Behind the International Hijab Solidarity Day

Assalamu’alaikum Wr. Wb…
Dear Hijabees, ternyata 4 September ini diperingati sebagai International Hijab Solidarity Day. Ada beberapa versi yang menjadi latar belakang di deklarasikannya peringatan ini. Mengutip berbagai sumber, berikut Hijabee akan menguraikan beberapa cerita di balik  International Hijab Solidarity Day.
Versi 1
International Hijab Solidarity Day (IHSD) ini dilatarbelakangi oleh adanya keputusan pemerintah London yang melarang mahasiswa untuk memakai simbol-simbol keagamaan, sehingga banyak warga muslim yang memprotes keputusan ini. hal; ini tentu aja menyulitkan muslimah untuk menutup aurat secara sempurna. Karena itu, pada tanggal 4 september 2004 diadakanlah konferensi London yang dihadiri oleh Syeikh Yusuf Al Qardawi, Prof Tariq R. dan juga 300 delegasi dari 102 organisasi Inggris International, ynag kemudian menghasilkan keputusan :
1. Menetapkan dukungan terhadap penggunaan jilbab
2. Penetapan tanggal 4 september sebagai hari solidaritas jilbab internasional (IHSD)
3. Rencana aksi untuk tetap membela hak muslimah untuk mempertahankan busana takwa mereka.
Versi 2
International Hijab Solidarity Day (IHSD) awalnya diprakarsai para pemeluk Islam di 4 negara, yakni; Perancis, Jerman, Tunisia dan Turki. Karena di negara-negara tersebut para muslimah berhijab seringkali mendapat diskriminasi dan kesulitan. Para muslimah dilarang di Perancis. Banyak gadis muda berhijab diberhentikan dari sekolahnya karena berhijab. Sementara wanita Turki Muslim tidak diberikan perawatan medis dan akan dikeluarkan dari parlemen jika memakai hijab. Lalu di Tunisia wanita Muslim dibawa ke penjara dan disiksa jika mereka memakai hijab . Ini adalah beberapa contoh penganiayaan yang diderita oleh wanita hanya karena mereka mengikuti ajaran agama sebagai ekspresi iman mereka. Selain itu pada 4 september 2002, Perancis resmi melarang penggunaan hijab bagi warganya.
Versi 3
Marwa Al-Sharbini, 32, meninggal dunia karena ditusuk oleh seorang pemuda Jerman keturunan Rusia pada Rabu 1 September 2009 di ruang sidang gedung pengadilan kota Dresden, Jerman. Saat itu, Marwa akan memberikan kesaksian dalam kasus penghinaan yang dialaminya hanya karena ia mengenakan Hijab.Belum sempat memberikan kesaksiannya, ada seorang pemuda Jerman  menyerang Marwa dan menusuk ibu satu orang anak itu sebanyak 18 kali. Suami Marwa berusaha melindungi isterinya yang sedang hamil tiga bulan itu, tapi ia juga mengalami luka-luka dan harus dirawat di rumah sakit.
Meski pemerintah Jerman berusaha menutup-tutupi kematian Marwa Al-Sharbini, cerita tentang Marwa mulai menyebar dan mengguncang komunitas Muslim di berbagai negara. Untuk mengenang Marwa, diusulkan untuk menggelar Hari Hijab Internasional yang langsung mendapat dukungan dari Muslim di berbagai negara. Usulan itu dilontarkan oleh Ketua Assembly for the Protection of Hijab, Abeer Pharaon lewat situs Islamonline. Abeer mengatakan, Marwa Al-Sharbini adalah seorang martir bagi perjuangan muslimah yang mempertahankan jilbabnya. “Ia menjadi korban Islamofobia, yang masih dialami banyak Muslim di Eropa. Kematian Marwa layak untuk diperingati dan dijadikan sebagai Hari Hijad Sedunia,” kata Abeer. Seruan Abeer disambut oleh sejumlah pemuka Muslim dunia antara lain Rawa Al-Abed dari Federation of Islamic Organizations di Eropa. “Kami mendukung usulan ini. Kami juga menyerukan agar digelar lebih banyak lagi kampanye untuk meningkatkan kesadaran tentang hak-hak muslimah di Eropa, termasuk hak mengenakan jilbab,” kata Al-Abed.
Sebagaimana kita tahu Allah SWT dengan tegas telah menyampaiakn dalam firmannya, memerintahkan kaum wanita untuk menggunakan hijab :
يَا أيُّهَا النَّبِيُّ قُلْ لأزْوَاجِكَ وَبَنَاتِكَ وَنِسَاءِ المُؤْمِنِينَ يُدْنِينَ عَلَيْهِنَّ مِنْ جَلاَبِيبِهِنَّ
“Hai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mu’min: “Hendaklah mereka mengulurkan jilbabnya ke seluruh tubuh mereka.” (Q.S. Al-Ahzab: 59)
وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ وَلاَ يُبْدِينَ زِينَتَهُنَّ إلاَّ مَا ظَهَرَ مِنْهَا
“Dan katakanlah kepada wanita yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluan-nya, dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya, kecuali yang (biasa) nampak dari padanya.”(Q.S An-Nur: 31)
Namun dalam praktiknya kadang ada keraguan dalam diri kita waktu memutuskan untuk berhijab. Sementara masih ada saudara-saudara muslim kita di luar sana yang sudah memantapkan hati namun bertubi-tubi cobaan menghampiri untuk menguji keimanan. Kekerasan tidak selayaknya dibalas dengan kekerasan, tapi tunjukkan bahwa kita adalah umat muslim yang berjihad dengan menunjukkan kelembutan dan kedamaian Islam.
Kita harus bersyukur hidup di Indonesia karena tidak merasakan apa yang saudara-saudara kita rasakan di “luar sana”. Semoga cerita di atas dapat membangkitkan semangat kita untuk mempelajari Islam lebih dalam dan semakin membuat kita bangga bahwa hijab adalah identitas kita sebagai muslimah.
Happy International Hijab Solidarity Day, Ladies. Celebrate your beauty and keep inspiring 🙂
Wassalamu’alaikum Wr. Wb.