Category Archives: Aqidah

Kewajiban Agama, Al-Bahrain FPIK Terus Ajak Mahasiswi Berjilbab

AJAKAN - Sebuah MMT yang berisi ajakan berjilbab terpasang disalah satu sudut kampus FPIK

AJAKAN – Sebuah MMT yang berisi ajakan berjilbab terpasang disalah satu sudut kampus FPIK

Berjilbab (hijab) bukan sekedar formalitas dalam berpakaian, namun merupakan perintah langsung dari Allah & Rosul-Nya. Sadar akan hal itu, Al-Bahrain FPIK sebagai Lembaga Dakwah Fakultas (LDF) di Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan Undip terus berupaya untuk mengajak mahasiswi berjilbab. Read the rest of this entry

Cintanya Kekasih Allah ( Nabi Muhammad ) Kepada Umatnya

 

Cinta Rosul Terhadap Umatnya

Cinta Rosul Terhadap Umatnya

 

Assalamu’alaikum Warohmatullah hi wabarokatuh . . .

Ikhwan wa akhwat fillah, saudaraku yang seiman, hembusan angin yang kita rasakan hari ini merupakan suatu karunia yang tak ternilai oleh siapapun. Suka dan duka telah dialami dengan berbagai bentuk penyelesainny merupakan kasih sayang Allah SWT. Begitu pula mahasiswa dan mahasiswi yang saat ini menempuh pembelajaran kehidupan merupakan nikmat dan wajib kita syukuri. Ingatlah wahai saudaraku, ingatlah wahai Diponegoro muda, semakin engkau mengejar kehidupan dunia, maka dunia akan semakin menjauh dari jangkauanmu. Dengan istilah lain, hal ini dapat dimaknai sebagai makna kecenderungan untuk mendahulukan kepentingan akhirat hakiki di atas kepentingan dunia yang hanya sementara.

Kata kata diatas hanya sebagai sedikit pembuka untuk mengawali sebuah bacaan yang Insya Allah bermakna bagi pembaca khususnya dan bagi saudara seiman,

Ada sebuah cinta yang sebenar – benarnya cinta yang dicontohkan Allah melalui Rosul-Nya

Pagi itu, walaupun langit telah menguning, burung – burung gurun enggan mengepakkan sayap.

Pagi itu, Rasulullah dengan suara terbatas memberikan khutbah,

Wahai umatku, Kita semua ada dalam kekuasaan Allah dan cinta kasih-Nya. Maka taati dan bertakwalah kepada-Nya. Kuwariskan dua perkara pada kalian Al-Qur’an dan Sunahku. Barangsiapa mencintai sunahku, berarti mencintai aku dan kelak orang – orang yang mencintaiku akan masuk surga bersama – sama aku. Khutbah singkat itu diakhiri dengan pandangan mata Rasulullah yang tenang dan penuh minat menatap sahabatnya satu persatu. Abu Bakar menatap mata itu dengan berkaca – kaca. Umar dadanya naik turun menahan nafas dan tangisnya. Usman menghela nafas panjang. Ali menundukkan kepalanya dalam – dalam. Isyarat itu telah datang, saatnya sudah tiba.

“Rasulullah akan meninggalkan kita semua” keluh hati semua sahabat kala itu.

Manusia tercinta itu, hampir selesai menunaikan tugasnya di dunia. Tanda – tanda iu semakin kuat. Ali dan Fadhal dengan cergas menangkap Rosulullah yang berkeadaan lemah dan goyah ketika turun dari mimbar. Disaat itu, kalau mampu, seluruh sahabat yang hadir disana pasti akan menahan detik – detik berlalu.

Matahari kian tinggi. Tapi, pintu rumah Rosulullah masih tertutup. Sedang didalamnya, Rosulullah sedang terbaring lemah dengan keningnya yang berkeringat dan membasahi pelepah kurma yang menjadi alas tidurnya.

Tiba – tiba dari luar pintu terdengar seorang yang berseru mengucapkan salam

“ Bolehkah saya masuk ?” tanyanya. Tapi Fatimah tidak mengizinkannya masuk.

“Maaf, ayahku sedang demam” kata Fatimah yang membalikkan badan dan menutup daun pintu. Kemudian ia kembai menemani ayahnya yang ternyata sudah membuka mata dan bertanya pada Fatimah

“ Siapakah itu wahai Anakku ?”

“Tak tahulah ayahku, sepertinya baru sekali ini aku melihatnya. “ tutur Fatimah lembut. Lalu Rosulullah menatap puterinya itu dengan pandangan yang menggetarkan. Seolah – olah bagian demi bagian wajah anaknya itu hendak dikenang.

“ Ketahuilah, dialah yang menghapuskan kenikmatan sementara. Dialah yang memisahkan pertemuan di dunia. Dialah malaikat maut, “ kata Rosulullah

Fatimah pun menahan ledakkan tangisnya.

Malaikat maut datang menghampiri. Tapi Rosulullah menanyakan kenapa Jibril tidak ikut sama menyertainya. Kemudian dipanggilah Jibril yang sebelumnya sudah bersiap di atas langit dunia menyambut ruh kekasih Allah dan penghulu dunia ini.

Jibril, Jelaskan apa hakku nanti dihadapan Allah ?” Tanya Rosulullah dengan sara yang amat lembut

Pintu – Pintu Langit Terbuka, para malaikat telah menanti ruhmu. Semua syurga terbuka lebar menanti kedatanganmu,” kata Jibril

Tapi itu ternyata tidak membuatkan Rosulullah lega, matanya masih penuh kecemasan.

Engkau tidak senang mendengar kabar ini ?” Tanya Jibril lagi

Kabarkan kepadaku bagaimana nasib umatku kelak ?” Tanya Rosulullah

“Jangan khawatir wahai Rosul Allah. Aku pernah mendengar Allah berfirman kepadaku : “Kuharamkan syurga bagi siapa saja, kecuali umat Muhammad telah berada di dalamnya ,” kata Jibril

DETIK – DETIK semakin dekat, saatnya Izroil melakukan tugas

Perlahan ruh Rosulullah ditarik. Nampak seluruh tubuh Rosulullah bersimbah peluh, urat – urat lehernya menegang

“ Jibril, betapa sakit sakaratul maut ini,” perlahan Rosulullah mengaduh

Fatimah terpejam. Ali yang disampingnya menunduk semakin dalam dan Jibril memalingkan muka

“Jijikkah kau melihatku, hingga kau palingkan wajahmu Jibril ?” Tanya Rosulullah pada Malaikat pengantar wahyu itu.

Siapakah yang sanggup, melihat kekasih Allah direnggut ajal,” kata Jibril

Sesaat kemudian terdengar Rosulullah memekik  karena sakit yang tidak tertahankan lagi

“Ya Allah !! Dahsyatnya maut ini, timpakan saja semua siksa maut ini kepadaku, jangan kepada umatku,”

Badan Rasulullah mulai dingin, kaki dan dadanya sudah tidak bergerak lagi. Bibirnya bergetar seakan membisikkan sesuatu.

Ali segera mendekatkan telinganya. “ Uushiikum bis shalati, wa maa malakat aimanuku. Peliharalah shalat dan peliharalah orang – orang yang lemah diantaramu,”

Di luar pintu tangis mulai terdengar bersahutan, sahabat saling berpelukan.

Fatimah menutupkan tangan di wajahnya, dan Ali kembali mendekatkan telingnya ke bibir Rosulullah yang mulai kebiruan

Ummatii .. Ummatii .. Ummatiii .. “

 

Dan berakhirlah hidup manusia mulia yang memberi sinaran itu

Betapa cintanya Rosulullah kepada kita

 

Duh, Halal atau Haram?

Bagaimanakah makanan yang selama ini kita makan?

Ketika keraguan datang mengenai halal dan haram dalam hidup kita

Diriwayatkan dari Abu Abdillah Nu’man bin Basyir ra. “Sesungguhnya yang halal itu jelas dan haram itu jelas. Di antara keduanya terdapat perkara-perkara syubhat (samar-samar) yang tidak di ketahui oleh orang banyak. Maka siapa yang menjauhi syubhat berarti dia dia telah menyelamatkan agama dan kehormatannya. Dan, siapa yang terjerumus dalam perkara syubhat, maka akan terjerumus dalam dalam perkara yang diharamkan. Sebagaimana pengembala yang mengembalakan hewan gembalaannya di sekitar (ladang) yang terlarang dimasuki, maka lambat laun dia akan memasukinnya. Ketahuilah bahwa setiap raja memiliki larangan dan larangan Allah adalah apa yang Dia haramkan. Ketahuilah bahwa dalam tubuh ada segumpal daging, jika dia baik maka baiklah selirih tubuh dan jika dia buruk, maka buruklah seluruh tubuh. Ketahuilah bahwa dia adalah hati.”

HR. Al-Bukhari dan Muslim

Bismillahirahmannirahim…

  Secara umum al-Qur’an maupun hadist memberi kriteria, makanan halal itu adalah halalan thayyiban. Dimana halalan thayyiban, menurut Sayyid Sabiq, terangkum dalam tiga hal:

  1. sesuai selera alamiah manusia.
  2. bermanfaat dan tidak membahayakan tubuh manusia.
  3. diperoleh dengan cara yang benar dan dipergunakan untuk hal yang benar.

Halal itu jelas, tidak tercela untuk dilakukan siapapun. Contoh : menikmati hal-hal yang dihalalkan Allah, seperti biji-bijian, buah-buahan dan yang berasal dari laut. ini jelas hukumnya tidak perlu dibantah.

Sementara, haram siapapun tau seperti uang hasil mencuri, minum khamr, memakan bangkai (kecuali yang berasal dari laut)  serta segala sesuatu yang mendatangkan mudharat (kerugian) bagi diri manusia.

Nah, ada satu hal yaitu syubhat (samar-samar) yang secara makna dapat diartikan sebagai berikut :

  1. Melakukan perkara-perkara syubhat haram hukumnya
  2. Syubhat akan memicu pada hal-hal yang diharamkan

Kedua pengertian ini di ketahui dengan jelas dengan mencermati perumpamaan yang dibuat oleh Rasulullah SAW mengenail hal penggembala kambing yang menggembala di sekitar pagar. Misalkan merokok, hal tersebut masih sama halal dan haramnya, namun setelah diadakan penelitian lebih lanjut ternyata rokok memiliki mudharat bagi pengguna dan sekitar . Yah, masih samar antara makruh dengan haram, maka sebaiknya ditanggalkan, karena terdapat keutamaan dari meninggalkan hal yang samar.

Syubhat sendiri dapat terjadi akibat minimnya ilmu, minimnya pemahaman, lalai dalam mencermati dan hal yang terbesar adalah niat yang tidak baik akibat keterberpihakan pada suatu kepentingan. Contoh dari niat seperti ini adalah tidak lain ingin membela pendapatnya sendiri, entah benar entah salah. Namun hal tersebut menghalangi seseorang untuk meraih ilmu  karena  yang bersangkutan hanya belajar untuk hawa nafsu belaka.

Mengenai Syubhat sendiri, bila dilihat kembali kedalam hadits diatas sebenarnya syubhat tidak selamanya berlaku untuk semua orang, hal ini di perkuat dengan sabda Rasullah saw, “yang tidak diketahui banyak orang.” yang berarti sesungguhnya banyak juga orang yang telah mengetahui syubhat tersebut.

Hikmah dari syubhat adalah, perkara-perkara syubhat adalah agar jelas siapa saja yang benar-benar serius menuntut ilmu dan tidak.  Permasalahan halal yaitu sesutau yang sudah jelas dan haram adalah sesuatu yang telah digariskan dalam syariah. Syubhat adalah samar-samar berlaku dalam ibadah, muamalat dan lainnya. Syubhat, hendaklah dihindari. Hati berperanan dalam mengendalikan diri sebagai pusat emosi dan akal.

Sumber : Hadits Arba’in ke- 6 oleh Imam An-Nawawi dan berbagai sumber

Ikhlas Dalam Niat, Hukum dan Keutamaannya (Bagian ke-1)

1. Hukum niat

a. Niat dalam beramal hukumnya wajib

dakwatuna.com – Allah SWT berfirman,

وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللَّهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ ۚ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ﴿٥﴾

“Padahal mereka tidak diperintahkan kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat. Yang demikian itulah agama yang lurus.” (QS. Al-Bayyinah: 5)

لَن يَنَالَ اللَّهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ ۚ

“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridhaan) Allah. Akan tetapi, ketakwaan kamulah yang dapat mencapainya…” (QS. Al-Hajj: 37)

قُلْ إِن تُخْفُوا مَا فِي صُدُورِكُمْ أَوْ تُبْدُوهُ يَعْلَمْهُ اللَّهُ ۗ

“Katakanlah, ‘Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu memperlihatkannya, pasti Allah mengetahui.’…” (QS. Ali Imran: 29)

وَعَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِي حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّابِ بْنِ نُفَيْل بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى بْنِ رَيَاحِ بْنِ عَبْدِ اللهِ بْنِ قَرْطٍ بْنِ رَزَاحِ بْنِ عَدِيّ بْنِ كَعْبِ بْنِ لُؤَيّ بْنِ غَالِبٍ الْقُرَشِيّ الْعَدَوِي رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ عُمَرَ بْنَ الْخَطَّابِ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَلَى الْمِنْبَرِ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ إِنَّمَا الْأَعْمَالُ بِالنِّيَّاتِ وَإِنَّمَا لِكُلِّ امْرِئٍ مَا نَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَتُهُ إِلَى دُنْيَا يُصِيبُهَا أَوْ إِلَى امْرَأَةٍ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَتُهُ إِلَى مَا هَاجَرَ إِلَيْهِ متفق

Amirul Mukminin, Abu Hafsh, Umar bin Khaththab RA berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW. bersabda, ‘Segala perbuatan tergantung pada niatnya. Setiap orang akan mendapatkan (pahala) apa yang diniatkannya. Barangsiapa berhijrah (ke Madinah) untuk mencari ridha Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya untuk Allah dan Rasul-Nya. Barangsiapa berhijrah untuk mencari harta dunia atau untuk seorang perempuan yang hendak dinikahi, maka hijrahnya hanya untuk itu (tidak mendapatkan pahala di sisi Allah).’” (Muttafaq alaihi)

Pelajaran dari Hadits di atas adalah:

i. Para ulama sepakat bahwa niat adalah syarat mutlak agar suatu amal diganjar atau dibalas dengan pahala. Namun, apakah niat merupakan syarat sahnya suatu amal atau perbuatan, mereka berbeda pendapat.

Ulama Syafi’iyah menyebutkan, “Niat adalah syarat sahnya suatu amal atau perbuatan yang bersifat ‘pengantar’ seperti wudhu, dan yang bersifat ‘tujuan’ seperti shalat.”

Ulama Hanafiyah menyebutkan, “Niat hanya syarat sahnya amal atau perbuatan yang bersifat ‘tujuan’, dan bukan ‘pengantar’.”

ii. Niat dilakukan di hati, dan tidak ada keharusan untuk diucapkan.

iii. Ikhlas karena Allah merupakan salah satu syarat diterimanya amal atau perbuatan.

b. Ikhlas dalam niat syarat diterimanya amal

Manusia dibangkitkan dari kuburnya pada hari kiamat dengan niatnya sewaktu di dunia. Perhatikan hadits berikut ini:

وَعَنْ أُمِّ الْمُؤْمِنِيْنَ أُمِّ عَبْدِ اللهِ عَائِشَةُ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَغْزُو جَيْشٌ الْكَعْبَةَ فَإِذَا كَانُوا بِبَيْدَاءَ مِنْ الْأَرْضِ يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ قَالَتْ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ كَيْفَ يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ وَفِيهِمْ أَسْوَاقُهُمْ وَمَنْ لَيْسَ مِنْهُمْ قَالَ يُخْسَفُ بِأَوَّلِهِمْ وَآخِرِهِمْ ثُمَّ يُبْعَثُونَ عَلَى نِيَّاتِهِمْ متفق عليه هذا لفظ البخاري

Ummul Mukminin, Ummu Abdillah, Aisyah RA berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Satu pasukan tentara akan menyerang Ka’bah. Ketika tiba di suatu tanah lapang, mereka semua dibenamkan (ke tanah).”

Aisyah bertanya, “Ya Rasulullah, mengapa mereka dibinasakan semuanya. Padahal, di antara mereka terdapat kaum awam (yang tidak mengerti persoalan) dan orang-orang yang bukan golongan mereka (mereka ikut karena dipaksa)?”

Rasulullah bersabda, “Mereka semua dibinasakan. Kemudian mereka akan dibangkitkan (pada hari Kiamat) sesuai niat mereka.” (HR. Muttafaq ‘alaih)

Ada beberapa pelajaran dari hadits di atas, antara lain sebagai berikut:

i. Perhitungan kebaikan dan keburukan didasarkan pada niat.

ii. Peringatan untuk tidak berteman dengan orang-orang yang tidak baik.

iii. Anjuran untuk berteman dengan orang-orang baik.

iv. Berita dari Rasulullah tentang perkara-perkara gaib yang harus dipercaya apa adanya. Kita juga wajib percaya bahwa perkara-perkara itu akan terjadi sebagaimana diberitakan karena semua yang dikatakan Rasulullah adalah wahyu.

– Bersambung